Alasan Pentingnya Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran ?

Mengapa keaktifan siswa penting dalam pembelajaran? Keaktifan siswa seringkali dinomorduakan oleh guru. Asumsi dan persepsi yang keliru bahwa proses pembelajaran sekedar sarana penyampaian informasi tanpa mendukung berkembangnya aktivitas siswa, telah menjadi kebiasaan bagi guru dalam mengelola proses pembelajaran.

Padahal, jelas sekali bahwa keaktifan belajar siswa sangat penting.

Menurut E. Mulyasa (2002: 32), pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran,

Oemar Hamalik (2002: 27), menyatakan bahwa dalam proses pendidikan di sekolah, tugas utama guru adalah mengajar sedangkan tugas utama setiap siswa adalah belajar. Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan, dan bukan suatu hasil atau tujuan.

Menurut Sardiman A. M. (2005: 47), belajar mengacu pada kegiatan siswa dan mengajar mengacu pada kegiatan guru. Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar.

Wina Sanjaya (2005: 87) menyampaikan bahwa keterkaitan antara belajar dan mengajar itulah yang disebut sebagai pembelajaran

Aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran akan berpengaruh terhadap daya ingat siswa terhadap pelajaran yang diberikan. Menurut Vernon Magnesen (dalam Anni : 2004 : 85), ingatan yang diperoleh dari belajar melalui membaca sebesar 20%, mendengar sebesar 30%, melihat sebesar 40%, mengucapkan sebesar 50%, melakukan sebesar 60%, dan gabungan dari melihat, mengucapkan, mendengar, dan melakukan sebesar 90%.

Aktivitas dalam suatu pembelajaran bukan hanya siswa yang aktif belajar tetapi di lain pihak, guru juga harus mengorganisasi suatu kondisi yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar. Tugas guru sebagai fasilitator dan pembimbing adalah memberikan bantuan dan arahan.

Masih menurut Erman Suherman (2001: 8), peristiwa belajar yang disertai proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang semata-mata dari pengalaman dalam kehidupan sosial dalam masyarakat.

Comments are closed.