Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif

Setiap model pembelajaran kooperatif, apapun jenisnya, memiliki unsur-unsur dasar sehingga pembelajaran kooperatif dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Terdapat banyak sekali jenis model pembelajaran kooperatif, seperti jigsaw, group investigation, STAD, dll. Masing-masing jenis tsb memang punya struktur dan ciri khas yang berbeda-beda satu sama lain. Namun, setiap model pembelajaran kooperatif  dibentuk oleh unsur-unsur dasar yang sama.

Unsur-unsur dasar tersebut lah yang membedakan model pembelajaran kooperatif dari model pembelajaran lainnya serta membedakannya dari kerja kelompok biasa. Sekilas, model pembelajaran kooperatif terlihat sama dengan metode diskusi biasa. Padahal, ada hal-hal yang membedakan pembelajaran kooperatif dengan metode diskusi biasa, yaitu unsur-unsur dasar model pembelajaran kooperatif.

Jika unsur-unsur tersebut diterapkan dengan baik, maka hasil yang diinginkan melalui pembelajaran kooperatif akan tercapai.

Apa saja unsur-unsur model pembelajaran kooperatif ?

Menurut Roger dan Jhonson (dalam Lie 2008:31) :
1) Saling ketergantungan positif. Siswa diberikan dua tanggung jawab, yakni sebagai individu dan sebagai anggota kelompok sehingga setiap siswa harus saling membantu dan bekerja sama.
2) Tanggung jawab perseorangan. Model pembelajaran kooperatif distruktur
sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota dalam satu kelompok melaksanakan tanggung jawab pribadinya.
3) Tatap muka. Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan terjadinya kontak
personal yang intens diantara para siswa.
4) Komunikasi antar anggota. Pentingnya komunikasi adalah karena komunikasi
diperlukan untuk bekerja sama dalam kelompok. Keberhasilan suatu kelompok bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
5) Evaluasi proses kelompok.

Menurut Kunandar (2007:359) :
1)  Saling ketergantungan positif.
Guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan antar sesama sehingga mereka merasa saling ketergantungan satu sama lain. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui : (1) saling ketergantungan pencapaian tujuan (2) saling ketergantungan dalam menyelesaikan pekerjaan (3) ketergantungan bahan atau sumber untuk menyelesaikan pekerjaan (4) saling ketergantungan peran.
2)  Interaksi tatap muka.
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok untuk dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi tatap muka memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar menjadi bervariasi sehingga diharapkan akan memudahkan dan membantu siswa dalam mempelajari suatu materi atau konsep.
3)  Akuntabilitas Individual.
Meskipun pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok, tetapi penilaian dalam rangka mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap suatu materi pelajaran dilakukan secara individual. Hasil penilaian sacara individual tersebut selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya. Oleh karena itu, tiap anggota kelompok harus memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok.
4)  Keterampilan menjalin hubungan antarpribadi.
Pembelajaran kooperatif menekankan aspek-aspek : tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik orangnya, mengutarakan pendapat, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, kesediaan untuk saling mendengarkan, dan berbagai keterampilan berdiskusi lainnya.

Menurut Bennet (dalam Isjoni, 2009:41) :
1) Positive interdepedence, yaitu hubungan timbal balik yang didasari adanya
kepentingan yang sama atau perasaan diantara anggota kelompok bahwa keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula atau sebaliknya.
2) Interaction face to face, yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa
adanya perantara.
3) Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota
kelompok.
4) Membutuhkan keluwesan, yaitu menciptakan hubungan antar pribadi,
mengembangkan kemampuan kelompok, dan memelihara hubungan kerja yang efektif.






Referensi :

Isjoni. 2009. Cooperative Learning. Bandung : Alfabeta.

Kunandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Lie, Anita. 2008. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo